Menurut Soerjono Soekanto diferensiasi sosial adalah variasi pekerjaan, prestise, dan kekuasaan kelompok dalam masyarakat yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat umum dari proses interaksi sosial yang lain. Diferensiasi terjadi akibat pola interaksi individu yang memiliki ciri-ciri fisik dan nonfisik berbeda-beda. Dengan adanya diferensiasi dan stratifikasi, terjadi pembedaan-pembedaan yang membentuk tingkat-tingkat kelompok sosial dalam masyarakat. Tingkat-tingkat kelompok sosial dalam masyarakat inilah yang dinamakan strata atau kelas sosial.
Strata atau kelas sosial yange berbeda berpengaruh terhadap kesempatan hidup yang akan diperoleh seseorang. Contoh, Adi seorang kepala keluarga yang bekerja di kelas menengah, sedangkan Beni seorang kepala keluarga yang bekerja di kelas bawah. Adi dan Beni memiliki kesempatan hidup yang berbeda sesuai dengan kelas sosial dari mana mereka berasal. Sebagai seorang yang berasal dari kelas menengah, sejak kecil Adi bisa mendapatkannya akses pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, sehingga dapat menyelesaikan hingga ke perguruan tinggi, dan juga memiliki kesehatan yang baik karena mendapatkan gizi yang cukup. Sedangkan Beni yang berasal dari kelas bawah, ia tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak adanya biaya, bahkan kesehatan Beni tidak lebih baik karena kurangnya gizi yang diasup.
Kesehatan adalah kunci kebahagiaan. Orang yang sehat memiliki kesempatan besar untuk bahagia. Contoh sederhana, ketika kita sedang sakit, makanan seenak apapun tidak terasa nikmat. Ketika kita sehat, ibaratnya makan nasi dengan garam saja sudah terasa nikmat. Robert Chambers (1987) menemukan bahwa di lingkungan keluarga miskin, tidak berpendidikan, dan rentan, mereka umumnya lemah jasmani dan mudah terserang penyakit. Hubungan antaranggota keluarga yang baik dapat melahirkan jiwa-jiwa jasmani yang sehat, jasmani yang sehat melahirkan keluarga yang bahagia.
Kondisi jasmani keluarga sangat berhubungan dengan keadaan ekonominya. Keluarga yang bekecukupan rata-rata memiliki jasmani yang sehat, tingkat kebahagiaan yang tinggi. Sedangkan keluarga miskin lebih sering terjangkit penyakit jasmani yang membuat keluarga tidak bahagia.
Seorang Ayah yang memiliki kemapanan dalam bekerja yang mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup keluarganya (keluarga kaya/menengah/cukup) tanpa harus mencari tambahan uang (hutang) kecil peluang terdapat masalah ekonomi dalam keluarga tersebut yang dapat menjadikan keluarga bahagia. Seorang ayah yang tidak memiliki kemapanan dalam bekerja (pekerja serabutan) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup keluarganya, atau harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dapat menjadikan suatu beban jasmani, takut tidak bisa mengembalikan uang menyebabkan keluarga tidak bahagia.
Tentu saja kesehatan dan kondisi ekonomi sangat besar ditentukan oleh pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan karakter (akhlak). Orang yang memiliki pendidikan baik, lancar, dan tinggi memiliki kemampuan untuk bekerja pada pekerjaan yang menghasilkan uang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sehingga, keluarga kaya yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan bahagia yang sangat besar dibandingkan dengan keluarga miskin yang berpendidikan rendah.
Kebahagiaan keluarga juga tak lepas dari cara orang tua untuk mendidik anak. Orang tua yang berpendidikan mampu mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Orang tua yang tidak berpendidikan cenderung mendidik anaknya dengan keras (emosi yang susah dikendalikan), padahal hal ini dapat menjadikan anak memiliki mental yang kurang baik. Tekanan batin yang dialami anak akibat salahnya cara orang tua mendidik dapat menimbulkan ketidakharmonisan keluarga.

Daftar Pustaka
https://agsasman3yk.wordpress.com/2009/07/30/konsekuensi-stratifikasi-sosial/ (diunggah pada hari/tanggal Selasa, 24 Oktober 2016 pukul 21.51 WIB)
Maryati Kun, Suryaati. 2001. Sosiologi untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta: Esis.

Iklan